Review: Pontypool

written by Rangga Adithia on December 1, 2009 in Canadian Film and CinemaTherapy and Horror with 3 comments

Now, in our top story of today, a big, cold, dull, dark, white, empty, never-ending blow my brains out, seasonal affective disorder freaking kill me now weather-front, that’ll last all day – or maybe – when the wind shifts later on, we’ll get a little greenhouse gas relief from the industrial south. HAIL MARY, yea though I walk – we go to Ken Loney – in the Sunshine chopper. ~ Grant Mazzy

Grant Mazzy (Stephen McHattie) sekali lagi akan mengulang rutinitasnya setiap pagi, mengendarai mobil menuju tempatnya bekerja. Dia adalah seorang penyiar radio, di sebuah stasiun radio yang berada di ruang bawah tanah gereja tua. Kota kecil Pontypool pagi itu tampak sepi dan bersalju, Mazzy sedang asyik menelepon sambil mengemudi. Sedikit bentakan dan bantingan telepon menghiasi aktivitas paginya, sebelum sampai ke tempat tujuannya pun dia dikejutkan dengan sosok perempuan yang mengetuk kaca mobilnya. Namun perempuan tersebut segera menghilang, ketika Mazzy membukakan kaca untuk tahu siapa perempuan itu. Siapa gerangan perempuan misterius itu? Mazzy tak ambil pusing dan meneruskan perjalanannya. Sesampainya di stasiun radio, tidak ada sesuatu yang berbeda, semua sama seperti hari-hari biasanya. Mazzy pun segera akan memulai acaranya di pagi hari untuk menyapa penduduk Pontypool dan membawakan beberapa berita-berita seputar kejadian yang ada di kota tersebut. 

Mazzy tidak sendirian di ruang bawah tanah yang sudah disulap menjadi stasiun radio dengan segala perangkat audio lengkap dengan ruang siarannya juga itu. Setiap pagi, dia ditemani produsernya Sydney Briar (Lisa Houle) dan seorang gadis muda yang juga veteran perang Laurel Ann Drummond (Georgina Reilly). Acara pagi itu dimulai dengan berita-berita membosankan, begitulah apa yang dirasakan oleh Mazzy yang selalu bersitegang dengan produsernya itu. Mulai dari berita hilangnya seekor kucing milik salah satu warga yang posternya ditempel dimana-mana sampai berita bis sekolah yang lagi-lagi terlambat karena terjebak badai salju. Tidak tahan dengan berita yang itu-itu saja, Mazzy pun sedikit melantur dan berimprovisasi dengan beritanya karena toh dia memang penyiar yang suka seenaknya. Dengan alasan untuk memberikan sesuatu yang beda kepada pendengarnya, terkadang dia dan produsernya pun harus beradu mulut dan berdebat perihal acara yang notabennya sedang “on air” tersebut.

Sydney, sang produser hanya tidak menginginkan acara yang sedang berlangsung keluar dari batas-batas yang sudah menjadi prosedur di radio itu. Namun Mazzy tampaknya terus-menerus menantang Sydney dengan celotehan-celotehan kasarnya yang memancing pertengkaran. Suasana yang memang kadang bisa memanas setiap saat dengan tipe penyiar dan produser yang sama-sama keras kepala, secepat menjentikkan jari, suasana juga akan kembali mencair. Ketika semua terasa sama dan tidak ada yang menghebohkan pada pagi itu, tiba-tiba ada laporan masuk yang menyatakan terdapat kejadian yang melibatkan sekumpulan orang yang sedang melakukan kekacauan. Berita yang masih simpang siur itu pun dengan cepat langsung diteruskan kepada pendengar radio melalui Mazzy yang wajahnya memperlihatkan kebingungan dengan apa yang baru saja terjadi. Mazzy, Sydney, dan Laurel pun berharap ini hanya lelucon, tetapi di tengah kebingungan mereka dan sedikit sekali info tentang kejelasan berita ini. Seorang reporter lapangan melaporkan apa yang sebenarnya terjadi, sebuah insiden yang membuat seisi radio tak percaya, bahkan mungkin membuat penonton akan bertanya-tanya…apa yang sebenarnya terjadi di Pontypool?

Pontypool, layaknya tuan rumah yang baik, mengijinkan kita untuk masuk, duduk santai, dan menikmati apa yang ditawarkan sang tuan rumah. Film ini dengan brilian menggiring penontonnya secara baik-baik untuk masuk ke dalam alur cerita, mengurung kita selama 95 menit dan menikmati horor yang “WTF” sungguh mengerikan. Dari awal film ini sudah menawarkan suasana sunyi, sepi dan sekaligus creepy lewat atmosfirnya yang dingin, sedingin salju yang sedang turun di kota kecil Pontypool. Film ini sebenarnya sudah memulai membangun horornya di menit-menit awal, tanpa sadar, pelan-pelan menghipnotis kita untuk duduk manis ketika horor dan ketegangan itu semakin dibangun ke level selanjutnya. Bruce McDonald, membalut ketegangan-ketegangan itu tidak dengan adegan-adegan yang mengumbar visualisasi seram. Kenyataannya, film horor berbujet kecil ini hanya memperlihatkan satu lokasi selama film berlangsung, yaitu hanya di stasiun radio dimana Mazzy siaran. Namun kecerdasan plot dan dialog-dialognya terbukti sukses membuat bulu kuduk ini berdiri, sebuah horor yang efektif menjerat penonton untuk merasa takut, ngeri, dan tegang secara bersamaan.

Film ini tak ubahnya seperti kita mendengar siaran radio yang sebenarnya, suasana kebingung, tegang, kacau, dan tak terkendali yang dialami oleh Mazzy yang bertugas menyiarkan berita, berhasil juga meracuni kita untuk ikut merasakan apa yang dirasakan oleh tiga orang di stasiun radio tersebut. Ketika mereka kalut dan bingung, kita pun secara tidak langsung akan ikut merasa demikian. Bruce McDonald pun dengan cerdik dapat mendramatisasi adegan-adegannya dengan sempurna, menangkap tiap detil raut wajah ketakutan dan ketegangan para pemainya lewat permainan sudut-sudut kameranya. Kecerdikannya dalam mengarahkan film ini dengan teknik-teknik pengambilan gambar yang sesuai dengan apa yang ingin disampaikannya ke penonton ternyata memang berhasil mengajak penontonnya untuk ikut andil dalam jalan cerita yang berlalu dari menit ke menitnya. Singkatnya kita seperti ada di dalam film dan menjadi bagian dari Mazzy dan stasiun radionya.

Seperti yang sudah diutarakan sebelumnya, selain plot film ini yang begitu cerdas dalam membangun ketegangan, dialog-dialog di film yang didasarkan pada sebuah novel karya Tony Burgess ini juga sama cerdasnya dengan plotnya. Nyatanya fokus film ini memang ada pada percakapan yang dibangun sejalan dengan plot ceritanya. Dialog-dialog panjang adalah hidup dan mati film ini, tapi percayalah walaupun panjang, dialog-dialognya tidak membosankan. Toh aroma tegang tidak hanya tercium dari adegan-adegan yang memang dipersiapkan sebagai hidangan istimewa di film ini. Tapi percakapan panjang dengan bahasa yang teratur walau terkadang kasar inilah yang sebenarnya menu spesial yang ditawarkan film ini. Ketegangan pun justru timbul dari adegan-adegan yang melibatkan para pemainnya dengan dialog yang memakan waktu tak sebentar itu. Dialog sudah menjadi pelengkap ajaib bin mujarab, menjadikan film ini tontonan yang segar setelah ditambah dengan tumpukan ketegangan yang disajikan.

Film ini juga tak ketinggalan menampilkan permainan akting yang apik dari para aktor dan aktrisnya. Stephen McHattie, Lisa Houle, dan Georgina Reilly berakting seperti layaknya mereka ada di situasi nyata. Salah satunya adalah Stephen McHattie yang bermain sebagai Grant Mazzy, seorang penyiar yang memiliki jiwa memberontak yang begitu besar, dia cukup baik memerankan  karakternya dan juga fantastis memainkan emosi penontonnya. Tentu saja selain suaranya yang memang cocok sebagai penyiar, Mazzy memang terbukti dapat menyihir kita lewat suaranya yang khas. Bersama dengan kepiawaian para pemainnya yang ternyata bisa berakting ini, film ini pun semakin hidup, tidak monoton, dan berkelanjutan dapat memberikan ketegangan. Percayalah, setiap adegan akan membawa anda ke ruang yang penuh dengan tanda tanya, mengunci kita dengan rasa penasaran tapi begitu nikmat untuk menunggu jawabannya.

Pontypool adalah satu contoh film yang patut ditiru, walau dengan bujet yang rendah, namun film ini dapat menghasilkan sesuatu yang maksimal. Sebuah film horor-zombie yang sudah pasti masuk hitungan film-film yang bagus. Memang film ini sedikit berlawanan arah dengan film-film zombie yang sudah ada, namun setidaknya dapat memuaskan dari cara penyajian yang menarik, sebuah film zombie yang menambah sedikit intelijen di dalamnya. Bersiaplah untuk senantiasa menunggu apa yang akan terjadi dari setiap adegannya, menanti teror apa yang sebenarnya terjadi di luar stasiun radio dan ketika makhluk-makhluk itu berdatangan, percayalah film ini belum mengakhiri terornya, sebaliknya otak anda baru saja akan mulai dipelintir olehnya. Enjoy! Pontypool. Pontypool. Pontypool. Panty pool!!

——————————
Rating  4/5

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Turbo Kid (...
Review - Ouija: Orig...
Review - The Girl wi...
Review - Before I Wa...