Review: Zombieland

written by Rangga Adithia on November 27, 2009 in CinemaTherapy and Comedy and Hollywood and Horror with one Comment

In those moments where you’re not quite sure if the undead are really dead, dead, don’t get all stingy with your bullets. I mean, one more clean shot to the head, and this lady could have avoided becoming a human Happy Meal. Woulda… coulda… shoulda. ~Columbus

Bumi tidak lagi didominasi oleh manusia, populasinya berkurang drastis dikarenakan sebuah virus. Sekarang yang tertinggal hanya kehancuran dimana-mana dan tentu saja orang-orang mati yang hidup kembali berkeliaran kesana-kemari. Virus telah merubah manusia menjadi zombie yang lapar akan daging manusia. Tidak terkecuali di United States of Zombieland, begitulah sebutan Columbus (Jesse Eisenberg) untuk negaranya yang telah dikuasai oleh para zombie. Colombus adalah salah-satu dari sedikit manusia yang masih selamat, seorang mahasiswa di sebuah Universitas di Texas yang berjuang untuk bisa hidup agar bisa pergi ke rumah orang tuanya. Walau dia tidak terlalu dekat dengan orang tuanya, dia masih berharap mereka masih hidup. Jadi bagaimana cara Colombus bisa selamat? padahal sekilas dia bukan tipe remaja yang pemberani, dia juga takut dengan badut. 

Apa yang membuat Colombus bertahan hidup adalah menaati peraturan yang telah dibuatnya, sebuah aturan main yang sebenarnya sepele namun cukup mujarab untuk bisa selamat dari zombie dan segala kebodohan yang beresiko membuat kita tergigit dan akhirnya “join the club”. Aturan seperti hindari kamar mandi atau ruangan sempit, pasang sabuk pengaman, tembak dua kali, jangan sok pahlawan, tahu jalan keluar, dan 27 aturan lain terbukti sudah membuat Colombus bertahan hidup sampai sekarang. Kembali ke perjalanan panjang Columbus menyusuri jalanan yang dipenuhi bangkai mobil bahkan pesawat, dia secara kebetulan bertemu dengan orang yang masih hidup lainnya. Tallahassee (Woody Harrelson) mengendarai sebuah mobil menuju Florida, dimana dia bisa membunuh zombie sebanyak-banyaknya. Tampaknya orang ini benar-benar benci sekali dengan zombie. Akhirnya pria bertopi koboi dan berkaca hitam ini, setuju untuk memberikan tumpangan pada Columbus yang malang.

Berlanjut ke sebuah supermarket, setelah melawan beberapa zombie, Columbus dan Tallahasse bertemu dengan kakak beradik, Wichita (Emma Stone) dan adik perempuannya, Little Rock (Abigail Breslin). Wichita membutuhkan pertolongan mereka berdua karena adiknya sudah tergigit dan tak mungkin bisa selamat. Dia meminta salah satu dari mereka untuk menembaknya, itu adalah permintaan dari Little Rock sendiri karena merasa dia tidak punya harapan lagi. Lebih baik mati daripada harus berubah menjadi salah satu dari zombie-zombie itu. Namun dilihat dari mimik wajah Colombus ataupun Tallahasse, mereka tidak tega untuk membunuh gadis tersebut. Maka dengan terpaksa sang kakak yang akan membunuh adiknya sendiri. Apakah Wichita akan menembak saudara kandungnya sendiri?

Opening film ini saja udah bikin gw merinding sekaligus takjub melihat suguhan permainan slow-motion dan credit-titlenya yang menyatu dengan film. Ketika judul Zombieland muncul, judul tersebut pun terlihat hancur berkeping-keping bersamaan dengan kaca yang pecah, masih dengan adegan melambat yang brilian. Di tambah “Metallica – For Whom the Bell Tolls” menjadi lagu penyihir yang sukses membuat gw terhipnotis untuk duduk manis selama 88 menit kedepan, menyaksikan kegilaan yang disajikan oleh film arahan sutradara Ruben Fleischer ini. Ruben sendiri bukanlah orang yang pernah membuat film dengan genre zombie, jika dilihat dari catatan film-filmnya. Begitu pula dengan penulis cerita di film ini, tak ada satupun yang pernah membuat film zombie. Namun secara ajaib film ini tercipta menjadi suatu karya yang boleh dikatakan pantas untuk mendapat acungan jempol.

Zombieland juga tidak disangka-sangka bisa sukses di tangga box office ketika film ini pertama kali dirilis, ini membuktikan film ini berhasil menyuguhkan hiburan yang disukai banyak orang dengan kemasan tema yang memang jarang yaitu zombie-comedy. Di tengah film-film zombie yang bisa dibilang tidak memuaskan dari segi cerita dan kualitas secara keseluruhan, film ini hadir membawa angin berbau darah segar. Lewat genre yang diusungnya, Zombieland tepat sasaran memuaskan para penggemar horor dan penggemar zombie yang rindu akan film yang dapat mereka banggakan. Sekali lagi genre-zombie mendapat tempat terhormat di industri perfilman dunia dan suatu pembuktian genre ini belumlah padam.

Entah ramuan ajaib apa yang digunakan untuk meracik film ini menjadi film yang hebat dalam hal mengibur sekaligus menakuti penontonnya, tapi walau demikian takut disini masih tetap membuat kita tertawa. Percayalah, film ini memang pintar memancing kita untuk tertawa, gw sendiri tak hentinya tertawa dari awal sampai akhir film, serius. Komedi yang disajikan begitu segar, menampilkan joke-joke yang baru dan alami memancing kita untuk mengeluarkan suara tawa dari hanya tersenyum sampai terpingkal-pingkal jatuh dari tempat duduk. Tumpukan aksi Columbus dan Tallahasse benar-benar diciptakan dengan cerdas menghasilkan perpaduan antara sesuatu yang luar biasa lucu dan ketegangan yang unik lalu mengemasnya menjadi aksi brutal melawan zombie.

Film ini juga dengan baik memvisualisasikan dunia pasca zombie outbreak, sebuah dunia post-apocalypse yang berantakan sepanjang mata memandang. Amerika benar-benar dibuat seperti negara yang ditinggalkan penghuninya, sepi dan hanya menyisakan kehancuran dimana-dimana. Mobil berserakan, bangkai pesawat tergeletak kaku, dan Hollywood dibuat seolah-olah seperti kota mati. Pihak militer juga entah berada dimana, mobil lapis baja ditinggal begitu saja di jalanan yang notabennya dikuasai zombie yang dengan bebas berkeliaran mencari makan. Latar belakang yang dibuat sungguh-sungguh untuk mendukung realitas film ini, menjadikannya sebuah film zombie yang komplit.

Film ini mengajak kita bermain bagai di taman hiburan yang lengkap akan wahana-wahana yang dijamin setelah anda keluar dari studio, anda akan mengingat setiap adegan demi adegan karena film ini menciptakan ciri khasnya, banyak adegan yang memorable yang mengakar dan akan tertanam di masing-masing ingatan penontonnya. Bersama duo Woody Harrelson dan Jesse Eisenberg yang bermain apik dan meyakinkan sebagai dua survivor di dunia Zombieland, film ini menjadi semakin lezat dengan bumbu lelucon yang pas, tidak dilebih-lebihkan, mereka memang tahu bagaimana membuat kita tertawa. Dua badut penghibur di film ini pun ditemani dua pendamping yang juga dapat berakting manis, Emma Stone dan Abigail Breslin seperti sebuah oasis di tengah gurun, aksesoris cantik yang menambah lengkap film ini.

Zombieland adalah sebuah mesin penghibur, a fun-ride, dan tontonan nikmat dari awal sampai film ini berakhir. Formulanya yang disajikan lengkap, komedi yang renyah, cerita yang menghibur, horor yang khas, duo bad-ass yang tak terlupakan, dan elemen-elemen yang tak pernah ada di film lain, telah jelas akan menjadikan film ini masuk ke dalam list film-film cult-classic. Menurut gw film ini pantas untuk di sejajarkan dengan legenda zombie-comedy asal Inggris yaitu Shaun of the Dead. Hampir lupa, This movie totally and hillariously-funny, a must-see movie. Enjoy! Time to nut up or shut up!

——————————
Rating  4.5/5

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Aach... Aku...
Review - Talak 3
Tujuh Film Horor Fav...
Review - Lukisan Ber...