Review: 2012

written by Rangga Adithia on November 10, 2009 in CinemaTherapy and Drama and Hollywood and SciFi with one Comment

2012

First, the Mayan calendar predicted it…Now, science has confirmed it…but we never imagined it could really happen.

Apa jadinya jika mitos yang selama ini merebak di masyarakat tentang akhir dunia benar-benar menjadi kenyataan, sebuah ramalan kuno bangsa maya yang menyebutkan kalau kiamat akan terjadi pada tanggal 21 Desember 2012. Roland Emmerich (Independence Day, The Day After Tomorrow) yang sudah terkenal dengan film-film bencananya kali ini berhasil mengambil keuntungan dari “tahun maut” tersebut untuk diangkat sebagai sebuah tontonan yang semoga bisa menghibur bukan malah menambah takut orang-orang yang sudah “paranoid” dengan tanggal tersebut. 

2012, dibuka dengan penemuan para ilmuwan tentang bumi yang tengah di ambang kehancuran. Sebuah mimpi buruk yang akhirnya membangunkan para pemimpin dunia termasuk Amerika untuk segera mengambil tindakan terhadap masalah genting ini. Di lain sisi, semua tampak tenang seperti tidak terjadi apa-apa. Kehidupan masih berjalan dengan normal dan tampaknya orang-orang belum mengetahui apa yang akan segera mereka hadapi karena pihak pemerintah merahasiakan masalah ini. Termasuk Jackson Curtis (John Cusack) seorang penulis buku berjudul “Farewell Atlantis” yang punya kehidupan yang sedikit berantakan. Penjualan bukunya tidak sebagus yang diharapkan, hanya terjual beberapa ratus kopi saja. Kehidupan rumah tangganya pun hancur, dia dan istrinya sudah berpisah.

Pada suatu hari, Curtis membawa anak-anaknya untuk kemping di taman nasional Yellowstone. Sang ayah ingin memperlihatkan kepada anaknya tempat favoritnya sewaktu kecil, sebuah danau yang anehnya telah surut ketika mereka sampai di sana. Karena telah masuk ke daerah yang terlarang, Curtis dan anak-anaknya terpaksa dibawa menuju tempat penelitian pemerintah oleh para tentara. Di tempat penelitian ini, Curtis bertemu oleh seorang peneliti yang ternyata adalah penggemar bukunya, namun Curtis tidak mendapat jawaban tentang danau yang surut darinya.

2012 Photo2

Takdir malah mempertemukan Curtis dengan seorang pembawa acara di sebuah radio bernama  Charlie Frost (Woody Harrelson). Charlie tampaknya orang yang mengetahui segalanya, dari dirinyalah Curtis mengetahui sedikit informasi tentang apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang pemerintah sedang rencanakan. Aktivitas “aneh” pun mulai terjadi dimana-mana, retakan-retakan mulai terlihat di segala tempat. Gempa besar pun sudah terjadi dan tampaknya sesuatu yang besar akan segera datang sebentar lagi. Apa yang sebenarnya terjadi? Akankah Curtis dapat menyelamatkan keluarganya tepat pada waktunya? Apakah yang sedang direncanakan oleh pemerintah?

Kiamat betul-betul terjadi di film ini, namun ini adalah gambaran “akan apa yang terjadi jika kiamat itu benar-benar terjadi” versi Hollywood diwakili oleh visi sang sutradara spesialis film-film bencana Roland Emmerich. 2012, merupakan paket kehancuran total, bisa dibilang film ini adalah ibu dari segala film bencana yang ada. Bagaimana tidak, Emmerich menawarkan semua jenis bencana yang kemungkinan akan nyata terjadi, sebut saja gempa yang berkekuatan lebih dari 9 scala richter yang memporak-porandakan peradaban umat manusia, atau gunung berapi yang meletuskan bongkahan-bongkahan batu besar bagai meteor dari luar angkasa, jika itu dirasa belumlah cukup maka tsunami setinggi gunung akan menyapu daratan manusia dan merubahnya menjadi lautan.

2012 Photo3

Bencana-bencana yang sudah menakutkan itu diperparah, tentunya parah dalam arti positif, dengan spesial efek yang luar biasa memaksa mata untuk terus terbuka menyaksikan kota-kota besar dunia hancur berantakan. Emmerich betul-betul tahu bagaimana bermain dengan kehancuran, film ini seperti arena bermainnya yang paling dia sukai, dengan gampang dia meluluh-lantahkan gedung-gedung pencakar langit hingga rata dengan tanah dan membuat daratan layaknya sebuah kue coklat yang dipatah-patahkan menjadi beberapa bagian, belum puas dengan itu semua, si sutradara masih saja menenggelamkan kota-kota yang sudah hancur ke dalam lautan. Semua itu ditampilkan dengan “sangar” lewat efek-efek maha canggih yang membuat film ini terasa makin nyata.

Spesial efek adalah kelebihan film ini, menghibur sekaligus menakutkan, jadi terpikir apa benar kiamat akan seperti ini. Kehancuran dan kekacauan yang ada mungkin akan membuat penontonnya berpikir, bertanya-tanya, atau mungkin akan paranoid dengan angka 2012. Tapi jika dilirik dari segi cerita, film ini tidak menawarkan sesuatu yang baru. Tipikal film Roland Emmerich yang menuturkan cerita dengan ringan dengan bumbu-bumbu drama keluarga. Adegan-adegan heroik yang dibarengi dengan segala macam hal yang berbau keberuntungan dan kebetulan cukup kental hadir di film ini. Sekali lagi ini sepertinya sudah ciri khas film si sutradara Independence Day dan The Day After Tomorrow itu. Jadi tidak perlu takut tidak akan mengerti jalan ceritanya, walau diselingi oleh teori-teori ilmiah, hal tersebut sepertinya tidak berpengaruh apa-apa, bisa dibilang numpang lewat saja.

2012 Photo4

Secara keseluruhan, dibalik kekurangannya disana-sini, film ini telah total menghibur lewat adegan-adegan dramatis, fantastis dan menegangkan yang diciptakan dari formula kehancuran dan spesial efek yang ditawarkan Roland Emmerich. Walau memperlihatkan sebuah “kiamat”, semoga “2012″ tidak sampai menakuti anda untuk menontonnya dan tidak menjadikan anda orang yang paranoid setelah keluar dari bioskop.

——————————-
Rating  3.5/5

 

 

 

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Lights Out
Tujuh Film Horor Fav...
Review - The Girl wi...
Review - Under the S...