Review: Inglourious Basterds

written by Rangga Adithia on October 6, 2009 in CinemaTherapy and Drama and Hollywood and War with 4 comments

Inglourious Basterds

Now if one were to determine what attribute the German people share with a beast, it would be the cunning and the predatory instinct of a hawk. But if one were to determine what attributes the Jews share with a beast, it would be that of the rat. If a rat were to walk in here right now as I’m talking, would you treat it to a saucer of your delicious milk? ~Col. Hans Landa

Berlatar belakang pendudukan Nazi-Jerman di Perancis, pada saat perang dunia ke-2, sekelompok tentara Amerika keturunan Yahudi yang dijuluki “The Basterds” muncul ke permukaan. Kelompok yang dipimpin oleh seorang Letnan bernama Aldo Raine ini hanya punya satu misi yakni membunuh setiap Nazi yang mereka temui. Tindakan mereka yang brutal terbukti sudah meresahkan Hitler dengan Third Reich-nya, salah satunya adalah aksi para Basterds ini menguliti kulit kepala para tentara musuh. Aldo dan anak buahnya termasuk Sersan Hugo Stiglitz yang terkenal karena pernah menghabisi petinggi-petinggi gestapo, Sersan Donny Donowitz yang dijuluki “Beruang Yahudi” dengan kebrutalannya memukul kepala musuh sampai mati hanya dengan pemukul baseball, tampaknya telah berhasil menakuti dan menyebar teror balas dendam kepada pasukan Hitler dan Nazi-nya.

Di lain sisi, seorang gadis muda bernama Shosanna Dreyfus juga akan segera melakukan balas dendamnya. Secara tragis, keluarganya telah dibantai oleh Nazi dibawah pimpinan Kolonel Hans Landa, seorang petinggi SS yang dijuluki “Pemburu Yahudi”. Shosanna pun secara kebetulan menjadi dekat dengan seorang seorang prajurit bernama Zoller, yang tampaknya terkenal di lingkungan tentara Nazi karena jasanya membunuh 300 tentara musuh sendirian. Memanfaatkan kesempatan yang tidak datang dua kali ini, Shosanna pun merencanakan aksi balas dendamnya di balik kesederhanaan bioskopnya. Merakit sebuah kebencian yang selama ini terpendam dan menjadikannya bom waktu bagi kebengisan Fuhrer dan kekaisarannya.

Inglourious Basterds, adalah sebuah dongeng yang diciptakan dengan manis dan dibacakan dengan lembut oleh Quentin Tarantino. Sebuah dongeng yang kali ini bercerita tentang versi “andaikata” dari sejarah perang dunia ke-2. Jangan membayangkan ini adalah sebuah film kekejaman Nazi yang menguras air mata, bertema Holocaust seperti yang sudah-sudah. Jangan pula membayangkan ini merupakan film perang dengan ledakan maha “wah”. Toh sebaliknya, Tarantino membangun sejarahnya sendiri, membuat film yang “Thanks To God” masih merupakan ciri khas film-filmnya. Yah, ini adalah film Nazi ala sutradara yang terkenal lewat Pulp Fiction dan Kill Bill dan Tarantino meracik cerita dengan sangat menarik. Film ini penuh dengan kejutan disana-sini, kekerasan yang brutal namun indah, dan tentu saja lelucon yang disisipkan untuk memancing gelak tawa penonton.

Apa yang disuguhkan Tarantino kali ini begitu menarik, dari awal kita sudah diperlihatkan sebuah ketegangan, kemunculan pertama kali Hans Landa si pemburu yahudi yang menginterogasi seorang petani. Hans mencurigainya menyembunyikan keluarga yahudi, namun dengan santai Hans malah meminta segelas susu seperti ini semua hanya obrolan biasa. Namun apa yang terjadi selanjutnya adalah “a shocking-moment” klo bisa dibilang begitu. Tarantino memberikan kejutannya di awal film, seakan memberi tanda kepada penonton kalau film ini akan menjadi sebuah tontonan yang menarik sampai akhir. Kenyataannya memang demikian, walau dengan durasi yang agak lama, kenikmatan menonton film ini tak pernah luntur sedikitpun. Menit demi menit berlalu, Adegan demi adegannya semakin membuat penasaran, bertanya-tanya kejutan apalagi yang akan ditawarkan oleh sutradara yang kadang bermain menjadi cameo bahkan aktor di filmnya sendiri ini. The twist is totally awesome, I love it. I Love the blood.

Inglourious Basterds Photo1

Dialog-dialog cerdas yang mewakili ketegangan dan tensi tinggi di film ini pun makin ditambah seru oleh syut-syut close up dan adegan-adegan terpentingnya di capture dengan pergerakan kamera yang pas. Kadang adegan tanpa berbicara pun dapat terbaca “apa yang sebenarnya sedang terjadi” oleh angel-angel kamera yang tepat pada tempatnya. Musik pun jadi salah satu pembangkit mood disini, beberapa adegan menjadi semakin terdramatisasi dan kadang mencekam oleh musik yang luar biasa ini. Tentu saja musik yang diperdengarkan merupakan melodi-melodi indah khas film-film Tarantino, sekilas malah mengingatkan pada film Kill Bill.

Karya fiksi seorang Tarantino disini memang hebat, dengan drama yang kuat ditambah dengan action-action yang seperlunya namun tetap memukau. Cerita di film ini kenyataan memang terinspirasi Third Reich di era perang dunia ke-2, namun 100% jalan ceritanya tidak ada yang nyata. Hebatnya, Tarantino dapat mengemasnya dengan spektakuler. Tentu saja keberhasilan film ini diraih berkat para pemain-pemain yang berakting brilian.

Inglourious Basterds Photo3

Sepanjang film akting yang paling menyita perhatian adalah si Pemburu Yahudi diperankan dengan sangat luar biasa oleh Christoph Waltz. Karakter yang sungguh menarik, dengan sikapnya yang sebetulnya santai tapi dibalik itu tatapan matanya menyimpan ketegasan. Orang ini adalah predator yang menyamar dibalik bulu mangsanya. “Detektif” Schutzstaffel ini adalah orang yang bengis dan kejam tapi dia bisa menutupinya dengan sikapnya yang “fun”, itu semua dimainkan oleh Waltz dengan sangat memukau. Diikuti dengan aksen Jerman yang kental, pria ini juga menguasai bahasa lain seperti Perancis dan Itali termasuk bahasa Inggris. Waltz dapat berakting hinggal detil terkecil, dari caranya berbicara sampai cara dia berekspresi dan bereaksi. Oleh karena perannya yang termasuk “central” di film ini, dengan karakter yang unik, kemunculan orang kepercayaan sang Fuhrer yang bangga akan predikatnya sebagai “Pemburu Yahudi” selalu ditunggu-tunggu.

Selain Christoph Waltz, tentu saja semua pemainnya dapat memerankan peran pentingnya masing-masing dengan sangat baik. Brad Pitt yang memerankan pimpinan “The Basterds” dapat membawakan perannya dengan begitu cemerlang. Dengan tampang yang sepertinya dibuat lebih tua dari usia sebenarnya, penampilannya di film ini adalah salah satu akting terbaiknya selama dia bermain film. Walau kehadirannya di jatah kurang banyak disini, namun Brad dapat berperan semaksimal mungkin sebagai Letnan Aldo Raine.

Inglourious Basterds Photo4

Pemain lainnya seperti Daniel Bruhl si pahlawan perang, Diane Kruger si artis Jerman, Eli Roth si Beruang Yahudi, Til Schweiger si pembantai gestapo, dan Melanie Laurent si pemilik bioskop, kesemuanya berhasil menjadikan karakter-karakter di film ini hidup. Berakting seolah-olah karakter yang mereka mainkan adalah nyata dan pernah ada. Salut untuk Martin Wuttke yang memerankan sang Fuhrer, salah satu akting Hitler yang terbaik di dalam film. Hitler yang masih sama digambarkan dengan bengis dan kejam, namun lebih komikal di film ini dan bisa tertawa.

Dari akting para pemain yang “Hilarious” film ini juga menggambarkan suasana perang dunia ke-2 dengan rinci. Salut dengan Art department-nya yang memperlihatkan keindahan lewat setting-setting gedungnya. Terutama gedung bioskop yang dimiliki Shosanna yang tampil sederhana namun terlihat megah dan cantik.

Secara keseluruhan ini adalah suguhan yang entertaining di dunia fiksi karya Tarantino. Tanpa berbasa-basi, film ini dapat bercerita dengan alur yang tidak membuat pusing penonton. Film yang diawali opening yang membuat bulu merinding ini, dituntaskan pula dengan akhir yang dramatis dan tentu saja “inglorious”. Pasang mata dan pasang telinga adalah keharusan, karena akan menyesal jika melewatkan satu detik pun adegan yang banyak dipenuhi dengan dialog-dialog panjang tapi tidak membosankan. Apalagi QT pintar menaruh selingan-selingan humor “black comedy”-nya di film ini. Alhasil film ini semakin fun dan entertaining dengan bumbu khas sang sutradara yang sudah terbukti dengan kesuksesan film-filmnya terdahulu.  Film ini adalah masterpiece Quentin Tarantino, dan pantas untuk ditonton kembali berulang-ulang. So… selamat terpukau, selamat tertawa, dan selamat menonton film ini. Enjoy!! Nein nein nein nein nein nein!!

——————————-
Rating  5/5

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - A Copy of M...
Review - Aach... Aku...
Review - Iblis (2016...
Review - Don't Breat...