Review: Cloudy with a Chance of Meatballs & Mulan

written by Rangga Adithia on October 11, 2009 in Animation and CinemaTherapy and Hollywood with no comments

Cloudy with a Chance of Meatballs

I know we all blame Flint for this. In fact, the minute he steps out of that car, I’m gonna slap him in the face. He made a mess of things, but that mess was made to order, and it’s time we pay the bill. ~ Earl Devereaux

Cloudy with a Chance of Meatballs merupakan sebuah film animasi yang diadaptasi dari buku cerita “best seller” anak-anak yang dikarang oleh Judi Barret pada tahun 1978 dan di ilustrasikan dengan sangat apik oleh Ron Barret. Film ini bercerita tentang seorang penemu jenius bernama Flint Lockwood yang tinggal di sebuah kota kecil bernama “Swallow Falls” yang semua penduduknya hanya bergantung pada sarden sebagai penyokong kehidupan mereka. Lelah dengan keadaaan di sekitarnya, Flint si jenius mulai mencoba menemukan penemuan-penemuan barunya. Mulai dari “spray on shoes” hingga “monkey thought translator”  yang telah dicobanya, namun selalu berakhir dengan kegagalan.

Tujuan Flint menciptakan semua penemuannya ini sebenarnya sangatlah mulia. Dia hanya ingin membuat orang-orang di sekitarnya terutama ayahnya senang. Ketika pada akhirnya Flint menciptakan sebuah mesin penemuan terakhirnya yang dapat mengubah air menjadi makanan. Secara tidak sengaja sesuatu terjadi dan seisi kota dikejutkan dengan fenomena alam yang “aneh”. Hujan turun, namun kali ini bukan hujan biasa namun hujan makanan. Seluruh kota pun langsung dipenuhi kegembiraan karena ulah “mesin” buatan Flint ini. Hamburger yang turun dari langit memang menyenangkan, siapa yang tidak senang mendapat makanan gratis setiap hari. Flint pun akhirnya dipuja bak selebritis.

Lewat ide dasar yang brilian dengan membuat hujan makanan menjadi kenyataan, film ini berhasil menjadi tontonan yang sangat menghibur. Film ini menawarkan segala imajinasi yang ada di benak setiap orang akan hujan makanan. Dari permen yang bertaburan turun dari langit membentuk pelangi hingga jalanan yang dipenuhi dengan coklat dan ice cream. Seperti halnya penduduk kota Swallow Falls yang begitu senang dengan hujan makanan ini, penonton pun diajak tersenyum lebar untuk berpetualang di dunia fantasy penuh warna dan bentuk. Walaupun tidak bisa merasakan langsung apa yang dirasakan penduduk kota tersebut, toh penonton bisa ikut merasakan kesenangan melihat variasi makanan yang jatuh dari langit, memuaskan daya imajinasi mereka.

Film ini memang memanjakan mata dengan warna-warna cerah yang berasal dari aneka ragam makanan yang disajikan oleh mesin sang jenius. Alur cerita pun diolah sedemikian rupa menghasilkan sajian tontonan yang begitu nikmat dalam artian hiburan yang total. Walau dengan cerita sederhana, namun dengan resep-resep khusus, tidak menjadikan film ini sebuah animasi biasa. Racikannya yang matang malah membuat film ini toh jadi berbeda dengan animasi yang ada, ditambah dengan bumbu humor yang memang tidak dibuat-buat dan percayalah film ini sangat lucu. Setiap adegan yang lucu, imut, dan menggemaskan merupakan “paket antar” yang lengkap menuju ke dalam ruang khayal penonton.

Film ini tentu saja cocok sekali ditonton untuk seluruh keluarga. Sebuah hiburan keluarga yang memang lengkap dengan kekonyolan dan kelucuan yang mudah dimengerti, dengan kesederhanaannya akan langsung membuat kita tertawa. Dilengkapi dengan teknologi 3D, gambar-gambar penuh makanan dan khayalan tadi menjadi tambah hidup, dijamin makin mengasyikan menonton film ini dengan kacamata 3Dnya. Tampaknya menonton film ini membuat lapar…hahahahaha…enjoy!!! pizza please!!!

——————————-
Rating  4/5

Mulan

Who am I? Who am I? I am the guardian of lost souls! I am the powerful, the pleasurable, the indestructible Mushu! Oh. Ha, ha. Pretty hot, huh? ~ Mushu

Disney yang sudah terkenal dan “jago” dalam urusan membuat kartun-kartun berkualitas dan terbaik seperti: Aladdin, Beauty and The Beast, The Little Mermaid, The Lion King, kali ini singgah ke Negeri China untuk mengadaptasi sebuah cerita rakyat legendaris dan diangkat menjadi sebuah film animasi 2D. Lewat tangan-tangan ajaib para animator dan dikemas dengan cerita khas studio berlambang kastil ini, film yang kental akan kebudayaan negeri tirai bambu ini layak untuk disandingkan dengan masterpiece-masterpiece Disney lainnya. Selain sangat menghibur, film ini dengan kesederhanaannya menyampaikan banyak pesan moral dan mengajarkan lebih banyak tentang kebudayaan negeri yang tersohor akan tembok besarnya itu. Gw sendiri entah sudah berapa kali nonton film ini, sekedar bocoran saja kalau hari ini gw menonton film ini sampai 3 kali. Hahahahaha…

Film dimulai dengan invasi bangsa Hun, dipimpin oleh Shan-Yu yang membawa pasukan dalam jumlah besar dengan tujuan menyerang dinasti yang pada saat itu sedang berkuasa. Negeri yang sebelumnya damai dan sentosa ini pun segera melakukan upaya untuk mempertahankan China sekaligus melindungi rakyatnya. Para Jenderal Perang pun diutus untuk menghalau musuh dan merekrut sebanyak-banyaknya rakyat untuk bisa berperang melawan Bangsa Hun.

Di lain sisi, di sebuah desa yang tentram, seorang gadis bernama Mulan sedang bersiap untuk “upacara sakral”-nya. Anak perempuan satu-satunya dari keluarga Fa Zhou ini akan segera melaksanakan pertemuannya dengan “The Matchmaker” yang nantinya diharapkan dapat membawa kehormatan pada keluarga ini. Sial bagi Mulan, acara penting tersebut kacau-balau karena ulah Mulan yang sebenarnya tidak disengaja. Pulang dengan membawa malu kepada keluarga, Ayahanda mencoba menghibur anaknya yang sedang sedih. Namun sayangnya hiburan itu bersandar sesaat di pundak Mulan. Beberapa utusan dari “Imperial City” datang dengan membawa titah kaisar, yakni setiap pria di masing-masing keluarga harus ikut berperang melawan Bangsa Hun.

Mendengar pengumuman tersebut, Mulan tidak rela ayahnya yang sudah pernah berperang dan terluka ikut lagi dalam perang ini, dengan berusaha menghadang utusan kaisar. Tindakan Mulan ini justru membuat marah sang ayah karena dianggap memalukan keluarga. Tidak berdaya melarang ayahnya, Mulan pun nekat menggantikan tempat sang ayah dengan menyamar sebagai laki-laki. Tanpa sepatah kata, Mulan melarikan diri dari rumah menuju tempat pelatihan pasukan. Tidak bisa berbuat apa-apa, Keluarga Fa hanya bisa pasrah dan berdoa, karena jika penyamaran Mulan diketahui hukumannya adalah mati. Doa mereka pun akhirnya di dengar oleh para leluhur.

Para leluhur ini pun bangkit dari tidurnya dan mengadakan acara “reuni” untuk membicarakan Mulan dan upaya menyelamatkannya. Setelah berunding sengit tentang “Guardian” mana yang akan dikirim, akhirnya mereka sepakat memilih yang terbaik yaitu “The Great Stone Dragon”. Seekor naga kecil yang mantan guardian bernama Mushu diperintahkan untuk membangunkan si naga batu ini. Namun dengan ceroboh, Mushu malah menghancurkan patung si naga. Alhasil, Mushu harus berpura-pura menjadi si Naga Batu untuk memperlihatkan kalau ia sudah terbangun dan siap melaksanakan tugas.

Mushu yang sedang kebingungan akhirnya memutuskan untuk menggantikan peran si naga batu, dengan harapan bisa kembali mendapat pekerjaan lamanya yaitu “Guardian” jika nanti dia berhasil menjalankan misinya menyelamatkan Mulan. Mushu pun memperkenalkan diri dengan cara tak biasa lewat aksi teatrikalnya. Mulan yang pada awalnya sedikit tidak mempercayai kalau leluhurnya mengirim hanya “kadal kecil” akhirnya dengan terpaksa mengikuti kemauan Mushu untuk mendampinginya ke medan perang. Petualangan berbahaya Mulan dan Mushu pun dimulai, dengan ditemani oleh jangkrik yang katanya membawa keberuntungan. Apakah penyamaran Mulan akhirnya diketahui?

Film klasik dari Disney ini dibalut dengan apik menjadikannya tontonan yang 100% menghibur. Film ini dengan baik memadukan unsur-unsur  perjuangan, persahabatan, sejarah, action, dan juga komedi didalamnya. Apa yang disuguhkan film ini memang benar-benar menarik dari awal hingga akhir. Gw sendiri menikmati adegan-adegan seru Mulan dan kawan-kawan dalam upayanya “survive” dari pelatihan militer sampai dengan berperang dengan pasukan Shan-Yu. Selain itu film ini dengan cerdas menempatkan banyolan-banyolannya dengan tepat di setiap adegannya. Adegan-adegan konyol dan super kocak ini kerap muncul dari sang naga berbadan mungil Mushu. Tingkah polanya yang kerap kali mengundang tawa membuat film ini toh menjadi tidak membosankan.

Disney memang bisa diandalkan dalam membuat karakter-karakter unik yang gampang diingat, selain “master” dalam membuat animasi 2 dimensi dengan cerita-cerita yang selalu bagus-bagus tentunya. Seperti juga film-film Disney lainnya yang selalu menyisipkan lagu-lagu “The Best”-nya, tidak terkecuali dengan film ini. Mulan menghadirkan lagu-lagu yang indah dan enak didengar, satu lagu favorit gw adalah ketika Mulan sedang bersedih dan menyanyikan “My Reflection”. Kartun dari Disney memang tidak pernah meninggalkan ciri khasnya dan itulah yang membuat mereka tidak pernah dilupakan dan selalu ditunggu kehadirannya. Mulan yang dikeluarkan pada tahun 1998 ini menjadi salah satu yang terbaik yang pernah dibuat oleh Disney. Tokoh wanita berpedang bernama Mulan ini pun bagi gw adalah karakter perempuan yang terbaik dari Disney dan film ini pun jadi terfavorit sepanjang masa. Film yang pantas ditonton berulang-ulang. Enjoy!!

——————————-
Rating  4/5

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Aach... Aku...
Review - 3 Srikandi
Review - Dukun Linta...
Review - The Girl wi...