Review: District 9, Das Leben der Anderen & Carriers

written by Rangga Adithia on August 16, 2009 in Cinema of Europe and CinemaTherapy and Drama and Hollywood and Horror and SciFi and Thriller with no comments

District 9

Thirty years ago, aliens made first contact with Earth. Humans waited for the hostile attack, or the giant advances in technology. Neither came. Instead, the aliens were refugees, the last survivors of their home world…

Apa yang gw ekspektasikan terhadap film penutup summer movie ini di luar dugaan meleset. Film ini jauh lebih baik dari apa yang gw bayangkan, jauh dari hanya kata “luar biasa”. Sensasional sekaligus spektakuler, adalah kalimat yang cocok untuk mewakili film yang mengusung tema science-fiction ini. Gw menyukai segala aspek yang ditawarkan di film ini, dari orisinalitas ceritanya yang patut diacungi dua jempol sampai dengan atmosfir “real” yang membuat film ini makin terasa nyata. Tidak salah seorang Peter Jackson sang produser, percaya dengan film ini secara penuh. Karena pada akhirnya, Neill Blomkamp selaku sutradara telah berhasil membuat paket tontonan yang begitu sempurna. Satu sisi ini adalah film seni yang berkualitas tapi di sisi lain tidak mengurangi nilai hiburannya.

30 tahun yang lalu, Bangsa Alien melakukan kontak pertamanya dengan Bumi di kota Johannesburg, Afrika Selatan. Manusia menunggu apa yang akan diperbuat oleh Alien dengan kapal induk yang besar ini. Akankah mereka menyerang dengan senjata yang teknologinya jauh dari peradaban kita. Keadaan berbalik, ketika ternyata para Alien ini adalah para pengungsi dari planet asal mereka. Mahluk yang jumlahnya tidak sedikit ini, diperkirakan jutaan, akhirnya di tempatkan di kawasan bernama District 9.

Negara-negara di dunia bertanya-tanya apa yang akan bangsa manusia lakukan terhadap tamu asing ini. Kontrol penuh terhadap Alien berbentuk serangga ini diserahkan pada Multi-National United (MNU), sebuah perusahaan swasta yang tidak mempedulikan sebuah kata kesejahteraan terhadap para Alien. Organisasi ini hanya peduli terhadap kecanggihan senjata yang dipunyai Alien dan mendapat keuntungan yang besar jika berhasil membuatnya bekerja.

Sayangnya, sampai saat ini mereka tidak berhasil mengaktifkan senjata-senjata berbentuk aneh tersebut. Diketahui bahwa aktifasi untuk membuat senjata-senjata itu bekerja adalah DNA dari Alien itu sendiri. Ketegangan antara Manusia dan Alien pun dimulai. Ketika seorang agen MNU yang berkerja di lapangan untuk mendata Alien yang menghuni kawasan District 9 secara tidak sengaja melakukan kontak langsung dengan cairan misterius.

Wikus van der Merwe, nama agen tersebut, mulai merasakan sesuatu yang aneh terjadi dengan tubuhnya. Dia pun menjadi orang yang paling dicari dan diburu di dunia sekaligus orang paling berharga, karena dia adalah kunci untuk membuka rahasia senjata-senjata canggih ini. District 9 pun menjadi tempat satu-satunya yang dituju untuk bersembunyi. Apa yang akan terjadi dengan Wikus? Selamatkah dia dari kejaran MNU? lalu apa yang terjadi setelah dia terkena cairan tersebut? Bagaimana pula nasib para Alien?

Siapa bilang Alien selalu digambarkan superior, di film ini mereka malah identik dengan “tamu asing” yang harus tunduk dengan perintah manusia. Mereka di karantina di kawasan kumuh, dipagari, diawasi, dan di jaga ketat. Senjata dan rudal pun telah siap jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Walau pada kenyataannya, mereka mempunyai teknologi yang jauh lebih canggih, toh mereka tidak berdaya untuk melawan manusia.

Sebaliknya kita, manusia lah yang justru punya kuasa terhadap para Alien yang sering disebut “Prawn” ini. MNU memperlakukan mereka layaknya penjahat, yang terus patut dicurigai dan diperlakukan diskriminatif. Jadi pas sekali jika kampanye (viral) film ini menggembar-gemborkan tentang “Penyamaan Hak antara Alien dan Manusia” untuk melawan slogan-slogan MNU seperti “Human Only” atau “Non-Human Banned”.

Hal-hal seperti diatas adalah salah satu dari bagian yang membuat film ini menarik. Sebuah kenyataan yang mengejutkan yang coba dibangun dari awal kita menyaksikan film ini. Blomkamp benar-benar kreatif dalam menyajikan cerita yang briliant namun pas kadarnya, tidak berlebihan namun juga tidak kurang apapun. Cerita yang orisinil ini mampu membawa penonton untuk ikut serta kedalam, seperti merasakan kejadian di Johannesburg itu memang benar-bener terjadi. Apalagi ditambah dengan Style ala dokumenter yang dikemas secara apik dan arrrggghh lagi-lagi gw harus bilang briliant. Gaya pengambilan gambar yang unik – gabungan antara “first person point of view”, cuplikan-cuplikan berita, dan footage-footage kamera cctv- inilah yang juga makin memberikan cita rasa real, seakan kita jadi lupa kalo ini film dan bukan laporan live sebuah berita di televisi.

Tanyakan soal rupa Alien disini, tentu saja gw akan menjawab : Amazing!! dan sulit dipercaya untuk film yang berdana tidak terlalu besar, tidak seperti film-film blockbuster-summer-movie sebelumnya yang memang dipersiapkan berdana besar untuk soal CGI-nya saja. Namun lain hal dengan film ini, CGI di film ini ditampilkan seperlunya. Tapi sekali lagi tanyakan apa yang jadi kelebihan CGI di film ini, tentu saja gw akan menjawab : Clean banget!!! liat saja dari karakter Alien yang dari desainnya saja sudah keren. Ditambah dengan finishing CGI yang detailnya total. Tampak seperti Alien sungguhan.

Tanyakan sekali lagi, Apa banyak permainan efek visual canggih di film ini?  gw akan menjawab : Tidak. Memang kita tak akan dimanjakan dengan permainan efek yang berlebihan, seperti yang sebelumnya gw bilang. Namun dengan efek dan CGI yang ditambah seperlunya di beberapa adegan penting malah menjadikan adegan itu tambah luar biasa. Bukan malah mengurangi kualitas filmnya, toh film ini dibuat untuk sedemikian real seperti sesungguhnya sedang terjadi. Gw sudah cukup puas dengan efek yang diberikan di sini. Gw sudah cukup dibuat bengong dengan gerak-gerik dan raut muka Prawn alias Alien yang terasa nyata mewakili perasaaan mereka. Satu lagi I Love pesawat induknya yang tampil megah.

Elemen-elemen pelengkap “real-situation” di film ini pun disempurnakan dengan para pemainnya yang sama sekali tidak terkenal, namun bisa bermain sangat baik. Tokoh utama Wikus van der Merwe, yang diperankan oleh Sharlto Copley betul-betul menyita perhatian disini. Dominasinya disini sebagai peran kunci antara alien dan umat manusia dapat diperankan dengan luar biasa baik. Emosi yang dibangunnya lewat akting hebat nan naturalnya, berhasil menghubungkan para penonton dengan apa yang sedang dia perjuangkan. sebagai tambahan Sharlto Copley adalah teman dari si sutradara.

Secara keseluruhan, film yang berdurasi 112 menit ini tidak sedikitpun membuat kita merasa bosan, kenikmatannya tidak hilang dari awal hingga akhir film. Karena film ini juga berhasil menjaga intense-nya dengan baik, setiap adegan yang ber-alur cepat ini tersambung satu sama lainnya dan semuanya adalah adegan penting, tidak ada scene sia-sia di film ini. Jadi sayang sekali jika ada yang terlewatkan, mungkin akan mengakibatkan kita jadi tidak tahu jalan cerita atau tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Jadi bagi anda yang sempat kecewa dengan film musim panas sebelumnya, film ini bisa jadi membawa hawa segar. Bagi gw ini adalah salah satu film terbaik 2009. Sangat direkomendasikan, Enjoy!!

——————————-
Rating  4.5/5

Das Leben der Anderen

An innocent prisoner will become more angry by the hour due to the injustice suffered. He will shout and rage. A guilty prisoner becomes more calm and quiet. Or he cries. He knows he’s there for a reason. The best way to establish guilt or innocence is non-stop interrogation. ~ Gerd Wiesler

Das Leben der Anderen, berlatar belakang kota Berlin bagian timur pada tahun 1984. Era dimana Jerman terpisah dan kebebasan berpendapat dan berekspresi masih hal yang mahal di Jerman Timur. Film dibuka dengan adegan interogasi yang dilakukan oleh “Stasi” (Polisi Rahasia Jerman Timur) bernama Captain Gerd Wiesler (Ulrich Muehe). Bagian dari interogasi ini ternyata adalah sebuah bahan pelajaran dan diskusi di sebuah kelas, yang menggunakan rekaman asli interogasi. Wiesler yang punya reputasi baik di organisasi dan mempunyai loyalitas tinggi terhadap negara, nantinya akan ditugasi untuk mengawasi Georg Dreyman (Sebastian Koch). Dreymen adalah seorang penulis drama teater yang sedang naik daun.

Atas dasar kecurigaan pihak Stasi terhadap Dreymen, maka dilakukan pengawasan terhadapnya. Kediaman Dreymen pun di sadap, selama 24 jam gerak-geriknya diawasi dan setiap perkataannya dicatat. Di sebuah ruangan penuh dengan peralatan, Wiesler duduk mendengarkan setiap pembicaraan melalui headphone, mencatat setiap perkataan itu, dan mendengarkan setiap telepon yang masuk. Dreymen menjalani hidupnya seakan tidak terjadi apa-apa. Padahal seorang telah masuk kedalam kehidupannya. Begitu pula dengan Wiesler, secara tidak langsung dia juga masuk kedalam setiap inci kehidupan Dreymen. Akankah Wiesler yang “loyal” takluk dengan kehidupan Dreyman? Akankah kegiatan Wiesler diketahui oleh Dreymen?

Fantastis!!! Film ini tampak begitu sempurna menyampaikan sebuah drama kehidupan di balik dinding sosialis Jerman Timur. Cerita yang orisinil diesekusi dengan begitu indah ditangan Florian Henckel sang sutradara. Film yang mempunyai judul internasional “The Lives of Others” ini, menawarkan kisah yang kreatif, inspiratif, sekaligus menyentuh. Di sisi lainnya terdapat pelajaran moral yang diterjemahkan dengan baik lewat cerita yang dikemas tanpa basa-basi dan juga oleh karakter bernama Wiesler sang Good Man.

Jangan bayangkan ini merupakan film yang berat, sebaliknya alurnya begitu nyaman untuk diikuti dan ceritanya begitu ringan untuk dicerna. Dengan background era dimana kekuasaan Stasi atau East German Ministerium für Staatsicherheit begitu kuat, kita jadi sedikit mengenal gerak-gerik mereka pada saat itu. Sadap-menyadap jadi hal yang biasa pada jaman dimana semua yang berkaitan dengan elemen “Barat” dilarang. Film ini menghadirkan isu itu semua dengan atmosfir Jerman lama yang kental. Segala aspek istimewa diatas membuat film buatan Jerman ini jadi semakin menarik walau dengan durasi 137 menit.

Ulrich Mühe, begitu meyakinkan sebagai Gerd Wiesler, aktingnya begitu baik disini. Emosinya bisa membawa kita ikut merasakan yang dia rasakan. Sejalan dengan berjalannya cerita, aktingnya semakin kuat bersamaan dengan pergolakan batin yang ada di dalam dirinya. Tingkah polanya sebagai polisi rahasia berkode HGW XX/7 selalu membuat penasaran, pertanyaan “apa yang akan dilakukannya?” selalu akan muncul mempertanyakan sikapnya.

Overall, this is a wonderful movie, menjanjikan jalan cerita yang menarik dari awal film dimulai. Dengan score yang pas, film ini mampu membawakan alurnya dengan tidak terburu-buru tapi tak membuat bosan. Sebuah Drama yang indah dengan balutan thriller yang apik, Sebuah “Moral Story” yang sangat menyentuh  membuat ini adalah film yang patut ditonton. Enjoy!!

——————————-
Rating  4.5/5

Carriers

Realita kehidupan memang terkadang bagai mimpi buruk yang jadi nyata. Apa yang terjadi besok merupakan suatu tanda tanya besar? Jawabannya bisa bagus, bisa juga lebih buruk dari apa yang dibayangkan. Lalu apa yang akan kita lakukan bila mimpi buruk bernama “Flu” datang menghampiri.  Sejarah sudah mencatat, penyakit flu bisa membunuh banyak orang. Sebut saja flu burung, yang tahun lalu menyebabkan dunia mengalami ketakutan luar biasa, jumlah kematian tidak sedikit dan terjadi dimana-mana. Bayangkan jika penularan flu burung ini semakin luas, seluruh dunia akhirnya terjangkit virus ini dan tidak ada yang bisa selamat. Bisakah anda membayangkannya?

Bagi Ryan, Bobby, Danny dan Kate, hidup tidak lagi sama ketika dunia diambang kehancuran. Sebuah virus flu sudah menyebar ke seluruh penjuru bumi, penularannya cepat dan terjadi dimana-mana. Tidak ada yang selamat dan tidak ada lagi satupun yang bisa dipercaya. Ryan dan kawan-kawan mencoba lari dari kenyataan ini, berupaya selamat dari mimpi buruk, bersembunyi dari epidemik pembunuh massal ini.

Mereka menulusuri jalan dikelilingi hanya dataran gersang, padang dan gurun, tujuannya adalah pantai. Tempat terakhir dimana mereka bisa mengurung diri dan menunggu sampai semua kembali normal. Namun perjalanan yang bukan lagi sebuah liburan musim panas ini, akan penuh dengan cobaan. Sebuah tes yang akan menguji moral dan tindakan mereka sebagai manusia biasa. Apakah mereka akan selamat dengan aturan yang telah mereka buat sendiri dan patuh dengan aturan tersebut. Apakah mereka akan rela melakukan apa saja demi orang lain. Atau sebaliknya, ego akan mengusai mereka dan pergi tanpa orang tersayang, untuk mencari selamat sendirian.

Carriers memang sedikit berbeda dari kebanyakan film yang mengusung tema serupa. Adegan horor dan tegang memang masih bisa disaksikan di film ini. Formula tegang yang ditawarkan juga sedikit diracik untuk menghasilkan adegan yang betul-betul tidak memaksa. Adegan tegang yang murni hasil ketakutan untuk tidak terkena atau tertular oleh virus. Namun sebenarnya  apa yang ingin ditonjolkan di film ini adalah dari sudut pandang kemanusiaan. “Bagaimana sih manusia biasa seperti kita bisa selamat dari virus berbahaya ini” dasar pertanyaan seperti yang nantinya dicoba dijawab melalui film lewat karakter-karakter muda yang dipasang di film ini.

Seperti di ungkap sebelumnya, film ini menawarkan sisi kemanusian. Sebuah sisi yang terekspos lewat drama yang diramu dari intrik-intrik dari hubungan antara ke-empat remaja yaitu Ryan, Bobby, Danny dan Kate dalam upaya mereka untuk survive. Tidak hanya selamat dari virus mematikan tapi juga dari orang disekeliling mereka yang mereka anggap berbahaya. Kewaspadaan membuat mereka paranoid, Aturan main membuat mereka harus kehilangan hati nurani. Bersamaan dengan itu setiap langkah mereka diawasi oleh maut, yang siap menjemput mereka jika mereka melanggar aturan yang ada atau berbuat kesalahan sedikitpun.

Secara keseluruhan film ini tampil baik memodifikasi tema horror-survival dengan tambahan drama yang kuat. Karena jarang film dengan genre serupa bisa punya drama yang baik, biasanya hanya berfokus pada bagaimana membuat takut penontonnya. Sayangnya dengan durasi yang teramat cepat, film ini kurang mengeksplorasi lebih jauh ceritanya. Sehingga film ini pasti akan banyak meninggalkan pertanyaan-pertanyaan setelah akhirnya sampai ke end-credit. Walau begitu film ini masih bisa dinikmati sebagai tontonan yang menarik dan mengingatkan siapa diri kita sebenarnya. Enjoy!!

——————————-
Rating  3/5

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Talak 3
Review - Ghost Diary...
Review - The Wailing...
Review - Rumah Malai...